Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

8.22.2009

Susahnya Jadi Bupati

Dalam beberapa hari terakhir, Jember diramaikan pembicaraan tentang Pilkada yang Insya Allah akan berlangsung dalam pertengahan tahun 2010. Walau masih setahun lagi, tapi gaungnya sudah mulai terasa. Tidak hanya pada tataran masyarakat menengah, ditataran rakyat kecilpun info Pilkada sudah bukan barang asing lagi. Malahan, mereka lebih tahu seluk beluk politik pemenangannya dari pada saya yang kerjanya hanya berkutat diseputar informasi public. Saya hampir saja tak percaya, ketika Pak Neman, 67 , warga Jamintoro, Kecamatan Sumber baru, lebih mengetahui kapan pak Djalal mengkhiri pengabdiannya. Yang lebih membuat saya merasa malu, ternyata Pak Neman itu dulu merupaqkan salah satu pemilih Pak Djalal, yang kini kecewa ketika apa yang dijanjikan pak Djalal belum bisa dia nikmati.
Sebagai orang kota, wajah saya merah ketika orang tua bercucu 8 itu, dengan berapi-api mengkritik Pak Djalal yang dianggap omdo ( omong doang ), sebab menuurut saya, banyak sudah yang dilakukan Pak Bupati, mulai dari membangun infra struktur, membantu biaya pendidikan anak-anak kader Pos yandu, anak pasukan kuning, memberikan penerangan umum sampai kepelosok desa. Walau untuk itu semua, Pak Djalal harus dikritik disana-sini, bahkan harus menerima ketika ada sekelompok orang yang melaporkannya pada aparat hukum, dengan tudingan, dugaan korupsi. Nach, dari sini sudah dapat saya rasakan betapa susahnya jadi Bupati, apapun yang dikerjakan masih saja belum mampu memuaskan semua kelompok, terlebih jika sama sekali tidak berbuat.

Saya sempat berrdiskusi dengan kawan- kawan yang selama ini selalu menjadi tempat berkeluh kesah. Saya curhat pada mereka, ketika menemui berbagai persoalan yang tak mampu saya pecahkan sendiri. Dalam diskusi itu, saya melontarkan, susahnya menjadi seorang Bupati.. Selain harus berhadapan dengan ketidak puasan rakyat yang , harus juga bertanggung jawab secara hokum, bahkan secara sosialpun, seorang Bupati memiliki beban yang sangat berat. Namun Ironisnya, kenapa justru semakin banyak orang tertarik dengan jabatan yang menurut saya sangat susah untuk menjalaninya, (maklum ) wong saya bukan dilahirkan untuk memiliki pangkat menjadi bupati, namun secara kebetulan saya diberi kesempatan Allah untuk bisa dekat dengan beberapa Bupati.
Beragam jawaban yang disampaikan kawan saya, terkait pertanyaan saya Salah satunya adalah, ‘Jadi Bupati Itu Enak “. Mendapat jawaban seperti itu, saya kaget, sebab yang saya rasakan, betapa rumitnya persoalan yang harus dihadapi seorang Bupati, tapi kok sohib saya menjawab enak jadi Bupati. Mungkin, Mas Kresno, guyonan ketika menjawab pertanyaan saya, atau sekedar menggoda saya agar saya ( maaf ) ikut-ikutan latah untuk mencalonkan diri jadi Bupati Jember, walau secara riel aku gak mungkin bisa. Baik secara finasial maupun yang lainnya. Wong ngurus istri saya yang banyak aja sudah pusing, ditambah lagi anak-anak yang sudah menginjak dewasa dan perlu sentuhan saya, tambah membuat saya sama sekali gak tertarik dengan yang namanya jabatan Bupati atau sak piturute, yang banyak mengeluarkan modal. Yang aku bisa, mungkin jadi direktur sebuah perusahaan besar, dibayar besar, dengan fasilitas besar, walau gak pernah belajar jadi direktur ( he…he…. guyon kok –red )
Tapi yang jelas, pendapat saya dan sebagian kawan-kawan tampaknya gak pernah sama, entah karena saya yang telmi, atau saya yang gak kepengin maju ( jare Gus Nunung –red ), atau saya hanya kepengin jadi rakyat biasa, tetap seperti ketika saya ditahun 1990 an, bahkan sampai kapanpun saya akan tetap seperti ini, gak bakalan bisa jadi orang pangkat yang mampu merengkuh dunia.
Dimedia cetak, saya sempat membaca, ada sekitar 5 orang yang sudah berani menyatakan diri bakal mencalonkan diri jadi Bupati Jember. Ada Gus Djatmiko, Kader Partai Golkar yang memiliki kegigihan dalam memperjuangkan rakyat kecil, ada Mas Agus Hartono, Pengusaha asal Desa Subo, Kecamatan Pakusari, ada Pak Drs. Fatahillah, Calon Bupati yang begitu percaya diri , memproklamirkan pencalonan dirinya menjadi Bupati Jember, lihat saja gambar-gambarnya yang terpampang dibeberapa tempat strategis, ada juga mantan Wakil Bupati Jember di era Bupati Samsul Hadi, yaitu Bapak Drs. H. bagong Sutrisnadi,Wp. Msi. Untuk yang terakhir ini, selain sudah memiliki pengalaman dibirokrasi yang cukup matang, Pak Bagong juga mengaku kalau sudah pasti akan maju dari Partai Demokrat, partainya Pak Sby, Presiden RI. Malahan, kartunyapun dibuat sedemikian eksklusif, dimana disisi lain gambar Pak Bagong dengan latar belakang Logo Partai Demokrat, disisi lainnya adalah Gambarnya Pak Sby. Calon lainnya adalah bisa jadi Pak Djalal sendiri, walau pria yang suka ngetrail itu belum berani secara langsung menyampaikan kalau bakal kembali mencalonkan diri, namun, jika dilihat berbagai manuvernya, melalui kegiatan-kegiatannya , tidak menutup kemungkinan, Pak Djalal bakal ikut meramaikan kembali Bursa Calon Bupati Jember tahun mendatang.
Kembali pada ruwetnya menjadi Bupati saat ini, sudah tergambar, da mana banyak Bupati diberbagai daerah yang harus berurusan dengan aparat penegak hukum, dan tidak sedikit yang harus menginap di hotel prodeo. Terlebih, ketika KPK sebagai Lembaga super body diberi kewenangan untuk melakukan pemberantasan korupsi di negeri ini, banyak Bupati, bahkan pejabat-pejabat setingkat Bupati yang harus bertekuk lutut, dan kemudian harus rela tidur di Losmen “Taubat “. Berangkat dari itulah, saya miris untuk sekedar berpikir menjadi Bupati, apa lagi kemudian harus nekad mencoba-coba untuk mencalonkan diri.
Ketakutan saya itu ternyata menjadi pembicaraan banyak kawan, mulai dari kawan tidur, kawan main, kawan berpikir, sampai ke kawan ngrumpi , mereka menyebut saya sebagai orang yang pengecut, orang yang gak berani menghadapi tantangan, dan masih banyak lagi predikat yang diberikan oleh kawan-kawan ,ketika saya menyampaikan ketakutan menjadi seorang Bupati. Tapi, semua itu tetap gak saya gubris, saya hanya yakin dengan bisikan teman tidur saya, dan teman hidup saya, dimana menurut mereka, jangan Nggege Mongso, jangan terlalu banyak tidur siang, agar tidak bermipi yang bukan-bukan, lebih baik hidup dialam nyata, alam yang selama ini saya rasakan bersama mereka, alam dimana saya dan istri-sitri saya, anak saya selalu mensyukuri atas nikmat yang diberikan Allah, walau sekecil apapun, seperti kini, saya pun bersyukur ketika Allah memberikan kehidupan saya yang penuh liku. (*)




Baca Selengkapnya...

4.13.2009

MEMAHAMI KONSTALASI POLITIK PASCA PEMILU




Perhelatan politik nasional telah usai, pilihan legislative peiode tahun 2009- 2014 baru saja usai, walau perhitungan suaranya belum juga selesai. Dari data yang tercatat di situs resmi, diketahui Partai Demokrat di Jember mampu mengungguli Partai-partai besar yang selama ini malang melintang di Jember. Taruh saja Partai Golkar, PKB, dan PDIP yang dipemilu 2004 lalu menjadi partai dengan wakil paling banyak di gedung dewan, namun kini, situasi itu berubah drastis.

Partai Demokrat yang kelahirannya dibidani Presiden RI Sby, tampaknya mulai membuka mata semua pihak, dihampir semua Dapil di Jember pesona Sby mampu mengungguli Partainya kaum nahdliyin yang selalu umek setiap menjelang pemilu, hal itupulalah yang menjadikan partai kaum nahdliyin tersebut hancur lebur tak tentu arah, walaupun tidak semua kader mereka bisa dipecah belah oleh oknum-oknum yang menginginkan dirinya menjadi star di panggung politik.

Fenomena kemenangan Partai Demokrat , menjadi sangat menarik, ketika ada pihak-pihak yang mengkaitkan dengan sikap penguasa jember selama ini. Sudah bukan rahasia umum, penguasa jember memiliki sejarah yang cukup panjang. Naiknya Djalal jadi penguasa Jember, dulu didukung gabungan dua partai besar yakni, PKB dan PDI Perjuangan. Kini, pasca pencoblosan dan perhitungan suara Paraatai Demokrat menjadi unggul bakal membuat Pak Djalal sedikit pusing. Bagaia mana tidak, PKNU yang diharapkan bakal menjadi penyokong utamanya di Pilkada mendatang harus puas dengan hasil yang menyakitkan. PKNU yang pengurusnya banyak berasal dari pengurus PKB di pemilu 2004 lalu ternyata tidak mendapat dukungan seperti yang diharapkan. 15 kursi yang ditargetkan , trnyata hanya amampu diraih hanya sekitar 4- 5 kursi, itupun jika anantinya terdapat sisa suara yang diberikan padanya. jika tidak, mereka haru puas dngan posisi seperti apa adanya.


Dajal sebagai penguasa yang bakal mencalonkan kembali di Pilkada mendatang bisa jadi panik, melonjaknya suara Partai Demokrat seakan menyadarkan dirinya , untuk tidak menutup peluang bagi semua parpol menjalin akses dengannya. Fakta membuktikan, Partai Demokrat yang kini diprdiksi mendominiasi kursi di dewan bisa jadi menjadi pesaing kuatnya. Bisa saja, partai Demokrat mengusung lawan Djalal ditahun lalu yakni Baging Sutrisnadi, atau bisa jadi Saptono Yusuf, Ketua DPC Partai Demokrat yang maju sebagai representasi kader terbaik partai. Nah, disinilah, kejelian tim pendamping Djalal untuk mengkalkulasi . Jika tidak, jangan harap dapat kendaraan.



Baca Selengkapnya...

3.29.2009

MENUNGGU EFEK DOMINO BBJ

Gaung pelaksanaan Bulan berkunjung ke Jember (BBJ) mulai marak. Beberapa SKPD yang ditunjuk sebagai tim pelaksana kegiatan tahunan tersebut mulai menampakkan kesibukan yang padat, tak terkecuali Humas Pemkab Jember.


Berbicara Bulan berkunjung ke Jember (BBJ) tentunya perlu melihat asbabunuzul BBJ itu sendiri. Selain kelahiran BBJ yang awalnya dianggap sebagai kegiatan hura-hura, masyarakat Jember belum memahami makna kegiatan BBJ itu sendiri. Mereka selama kegiatan BBJ dilaksanakan belum pernah dijadikan subyek namun baru sebatas obyek saja, jikapun dilibatkan mereka hanya sebatas pada hal-hal yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan substansi kegiatan BBJ itu sendiri.

Dalam setiap kesempatan, sang arsitek BBJ, Ir.MZA Djalal selalu memberikan informasi seputar BBJ. Mulai apa itu BBJ, bagai mana BBJ diharapkan mampu mendongkrak nama Pemkab Jember yang sampai saat ini tetap saja tak pernah dikenal orang karena prestasinya, hingga bagai mana pemerintah berupaya memberikan hiburan bagi masyarakat Jember setiap pelaksanaan BBJ digelar

BBJ..., Apa itu...?

Banyak measyarakat Jember, khususnya masyarakat pinggiran sama sdekali belum mengengetahui apa sebenarnya BBJ itu. Masyarakat selama ini disibukkan dengan upaya pemenuhan ekonomi keluarganya, mereka tahu BBJ ketika konvoi panji-panji BBJ melewati daerahnya. mereka tidak mengetahui apa manfaat BBJ itu bagi diri dan masyarakat lainnya, yang mereka ketahui selama ini hanya, disaat menjelang bulan agusuts, pemerintah kabupaten Jember yang dulu selalu menggelar kegiatan agustusan, kini diubah menjadi kegiatan yang menurut pelaksana lebih mengena, yakni BBJ. Disana , semua potensi Jember dari berbagai wilayah bakal ditampilkan, ya potensi ekonominya, potensi sumber daya manusianya, sampai pada potensi lainnya ,semua diharapkan mampu tampil dengan kekuatan penuh, hingga mampu menjadi daya tarik bagi wisatawan baik lokal maupun manca negara.

namun yang dilupkan oleh pemerintah sampai saat ini adalah, masyarakat Jember sebenarnya jenuh dengan tampilan wajah menor mereka, apa lagi harus dipertontonkan pada orang lain. Sejatinya, masyarakat ingin pemerintah memberikan penguatan kelembagaan pada instrumen perekonomian, hingga mampu meningkatkan daya beli masyarakat. Selain itu, jika pemerintah serius ingin menjual Jember kedaerah luar, banyak syarat yang harus dipenuhi pemerintah, diantaranya adalah, pengelolaan Jember secara lebih profesional yang berorientasi pada kualitas fisik dan non fisiknya. Juga perlu dibenahinya beberapa sarana dan prasarana umum baik jalan, obyek wisata, dan tak kalah pentingnya adalah , di upgradenya mental birokrat, agar tujuan dasar pelaksanaan BBJ itu dapat benar-benar mengangkat nama Jember.

Berbicara Bulan Berkunjung ke Jember, mustahil jika pikiran kita tidak mengarah pada obyek wisata. Sebagai daerah yang memiliki sedikitnya 48 obyek wisata , Pemerintah bisa saja mengawali dengan membangun infrastruktur wisata, selain juga dipenuhinya orang-orang yang mampu mengelola wisata secara profesional. Pemerintah, bisa saja mengadakan dialog dengan stakeholder, seperti agen travel, Persatuan Hotel dan restauran Indonesia, dan masih banyak lagi elemen-elemen lainnya. Ajak mereka bicara dan minta mereka mengkonsep Bagai mana Pariwisata Jember harus bangkit dan mampu bersaing dengan daerah lain. kemudian, pemerintah Kabupaten melalui Kantor Pariwisata bisa mengoptimalkan peran Gus dan Ning Jember, yang keberadaan mereka sebenarnya merupakan asets yang belum dioptimalkan,k untuk mempromosikan Jember dengan konsep mereka masing-masing.

Efek Domino.

Jika apa yang telah dikonsepkan pemerintah, kemudian dibicarakan dengan semua stake holder, paling tidak ada sebuah konsep baru, yang diharapkan mampu membangun wisata jember sesuai keinginan masyarakat semua. Harapan masyarakat, seiring majunya wisata jember dapat mensukseskan bulan berkunjung ke Jember, dengan meningkatkanya tingkat okupasi di hotel-hotel , kemudian bagai mana agen-agen travel di Jember minimal mampu mengajak wisatawan pengguna jasa mereka,untuk sekedar mampir minum teh pokak yang begitu nikmat dan dikenal tersebut, kemudian bagaimana juga agen-agen travel bisa membawa wisatawan untuk sekedar makan siang di rumjah-rumah makan yangb ada. Ini semua bisa dilakukan , asal saja konsep tentang wisata dan menjual Jember benar-benar dilakukan dengan sepenuh hatiu, dengan orientasi membangun dan menjual jember, tanpa ada kepentingan pribadi yang menunggangi kegaiatan yang dibaiayai pemerintah milyaran rupiah tersebut.

Jikka itu yang terjadi, maka efek domino dari kegiatan BBJ bakal ikut dinikmati oleh masyarakat, baik miskin sedang maup[un yang kaya. Disana-sini bakal terjadi kegiatan yang melibatkan seluruh potesni masyarakat, bahkan jika dipantau dan diarahkan dengan benar, tidak menutup kemungkinan, nama Jember bakal lebih gampang dikenal oleh orang dikolong jagad ini(Sar)

Baca Selengkapnya...

3.19.2009

Ide Cerdas Membangun Jember

Membangun Jember, kota yang dulu dikenal dengan emas hijaunya tidaklah gampang. Dibutuhkan keberanian, ide-ide cerdas agar pembangunan dapat berjalan sesuai harapan. Heterogenitas masyarakat Jember, membutuhkan pemimpin yang mampu merangkul semuanya.

Peran Pimpinan sebagai pengayom hendaknya dimiliki oleh siapapun pemimpin Jember. Ya. Kali ini Putra asal pulau garam Madura, Ir. MZA Djalal tampak cukup berhasil menjalankan fungsinya sebagai Kepala pemerintahan, Bapak dan Pengayom. Ide-idenya yang kadang kontroversi ternyata baru bisa dilihat keberhasilannya beberapa saat kemudian. Lihat saja, bagai mana dia menggulirkan konsep menjual Jember melalui penggalian potensi yang dikemas dalam Bulan Berkunjung Ke Jember. Walau awalnya mendapat kritikan, bahkan cemohan dari berbagai pihak. Suami Sriwahyuni itu tetap pada pendiriannya. BBJ yang dianggap menghambur-hamburkan anggaran SKPD , mengkaburkan sikap Nasionalisme masyarakat karena tak adanya kegiatan agustusan , kini mulai menuai hasil. Beberapa obyek wisata di Jember mulai dilirik investor , bahkan sikap "Mbidegnya " ketika merobah bentuk jalan didepan Masjid Al baitul amin, alun-alun kota , saat inipun juga mulai dirasakan manfatnya.

Lihat saja bagai mana indahnya alun-alun kota Jember, saat malam merambat. Disana terlihat masyarakat Jember menjadikan alun-alun sebagai tempat wisata keluarga. Masyarakat banyak berdatangan sekedar melepas penat setelah seharian bekerja. Sambil menikmati hangatnya kopi seduhan Mbak Pur, dan lezatnya nasi goreng semakin membuat semarak kota Jember. Belum lagi, berapa orang yang memanfaatkan pembangunan sarana tersebut,untuk berjualan , mengais rejeki diantara berduyunnya masyarakat .

Ya, ide cerdas itulah yang perku kita dukung. Kerja keras dan sikap konsiten dalam memperjuangkan nasib wong cilik perlu di dukung dalam membangun Jember. Kita tidak ingin Jember tercabik-cabik. Kita tidak kepengin Jember jadi kota yang menakutkan banyak pihak, terlebih kita tidak ingin Jember menjadi kota yang digunjingkan karena kumuhnya, karena kegalakan premannya, dan kita tak ingin Jember menjadi kota yang dipenuhi para pramunikmat.

Pembangunan empat bidang sekala prioritas yang menjadi program utama pemerintahan MZA Djalal, satu demi satu menunjukkan hasil yang membanggakan. Pembangunan infrastruktur jalan kini mulai dirasakan masyarakat dipelosok desa. Jalan poros antara Kecamatan Ledokombo dan Kecamatan umberjambe kini mulai mulus, walaupun baru sebagian. Perbaikan saluran irigasi , yang diharapkan mampu meringankan petani juga sudah diwujudkan. Rasyid dan kawan-kawannya tak sedikitpun melewatkan program terebut , karena komitmennya untuk memberikan layanan terbaik pada masyarakat. Demikian halnya dibidang Pendidikan.

Berbagai penghargaan baik tingkal regional maupun Nasionalpun telah diraih. Penghargaan Widyakrama salah satu bukti bahwa pembangunan bidang pendidikanpun mulai berjalan step by step. Namun, walaupun sudah menraih berbagai penghargaan tidak membuat Achmad Sudiono, Kepala Dinas Pendidikan puas. Dia justru menganggap masih banyak persoalan pendidikan yang harus dituntaskan. Dengan penghargaan itu, menjadikan dirinya dan seluruh elemen masyarakat yang mendukung terselenggaranya program pendidikan semakin terlecut.

Kini, hanya tinggal beberapa saat saja. Program-program yang dulu pernah dijanjikan oleh Cak Djalal masih belum semua terseselsaikan. Masyarakat Kecamatan yang ada diujung utara masih mengalami kesulitan penerangan, masih mengalami kesulitan Pupuk. An ini, merupakan Pekerjaan Rumah yang harus segera diselsaikan. Gar, masyarakat dapat menikmati buah perjuangannya selama ini.(*)



Baca Selengkapnya...

  © Klik Duniaku Ch3ru_Pastyle 2009

Back to TOP