Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

8.29.2009

BERJUANG BANGUN JALAN, MAJUKAN PENDIDIKAN

Sungguh mulia cita-cita yang dimilikinya, dilator belakangi rendahnya sumber daya manusia didesanya, Muchyit berobsesi untuk membangun sarana jalan, demi memajukan pendidikan. Sayang, keinginan pria yang baru setahun menjabat sebagai Kepala Desa tersebut, belum memperoleh dukungan yang maksimal dari instnasi terkait, akibatnya sangat fatal, pendidikan yang kini menjadi sekala prioritas dalam program pembangunan Pemerintahan Bupati Ir.MZA Djalal belum mampu berkembang sesuai dengan keinginannya.Namun, bukan Muchyit , kalau tidak ada upaya untuk mengetuk peratian pemerintah. Dengan berbagai cara termasuk bekerja sama dengan media, dirinya berharap agar apa yang menjadi obesinya mendapat dukungan, jika tidak dari Pak Bupati, Kepala Dinas pendidikan , Kepala Bina Marga, minimal ada upaya dari Camat setempat untuk membantu terlaksananya cita-cita membeaskan rakyatnya dari keertinggalan .
Jambe arum, merupakan desa yang terletak wilayah bagian ujung ditimur laut arah dari Jember, letaknya sebenarnya tidak cukup jauh dari kota Kecamatan, hanya sekitar 5 Km, namun perkembangan pembangunan , khususnya sarana infrastruktur dan pendidikan masih sedikit kalah jika dibandingkan dengan beberapa desa yang ada di Kecamatan Sumberjambe. Kekuarangan ini tidak menjaikan kendala bagi ustad satu itu, justru dijadikan energi yang cukup besar untuk bergerak, keluar dari kesulitan. Berbekal kondisi alam yang sedikit mendukung, pria murah senyum tersebut kemudian mencoba untuk mencari jalan keluar, mulai mengajak masyarakat untuk berpartisipasi aktif membangun desa dan pendidikan, dia terus bergerak, mewujudkan impiannya.
Sorot yang menemui dikantornyapun diajak untuk berdiskusi, dan melihat secara langsung kondisi jalan yang sangat parah, padahal hanya melalui akses jalan itulah, anak-anak harus menuju sekolah mereka. Jika musim kemarau, tidak banyak masalah yang dihadapi, namun jika sudah musim penghujan, jalan menjadi sulit untuk dilalui, jangankan anak-anak yang mau sekolah, guru dan yang lainnyapun enggan untuk melewati jalan tersebut, akibatnya sangat fatal, banyak anak-anak dan guru yang tidak masuk sekolah, hingga wajar kiranya kalau pendidikan di Desa Jambe arum masih jauh tertinggal dari desa lain ya. “ coba lihat mas, ini jalan yang saya maksud, bagai mana rusaknya jalan ini, dan kalau hujan, jangankan anak-anak, orang tuapun malas melewati, hingga banyak anak yang mbolos sekolah “ ujarnya.
Hal sama juga disampaikan P.No, Kasun desa setempat. Menurutnya, sejak lama desa Jambe arum ini ingin mewujudkan keinginannya memperbaiki jalan menuju sekolah itu, tapi masih belum memiliki anggaran yang cukup, sementara masyarakat sangat berharap, masalah jalan bisa diselesaikan. Ditempat terpisah, Tosi, alias P. selfi membenarkan apa yang dimaksud oleh Pak Kasunnya, bahkan dirinya sudah sering diajak rembug untuk membangun bersama, tapi sampai saat ini belum juga, manurutnya banyak factor yang menyebabkan kenapa jalan itu belum diperbaiki, selain masyarakat disini ekonominya masih susah, belum ada rasa ikut memiliki dari Perusahaan- perusahaan yang ada disini.
Tampaknya apa yang disampaikan P.Selfi diamini oleh Abdul Azis, salah seorang anggota LSM Bongkar, di Sumberjambe. Menurutnya, perusahaan yang berada diwilayah Desa jambe arum itu besar-besar seperti LDO, dan Perhutani, mana disana sering lewat truck-truck besar mengangkut kayu atau hasil kebun lainnya. Untuk itu, seharusnya ada pendekatan dari Camat ke Perusahaan-perusahaan itu untuk diajak membahs bagai mana sebaiknya dalam membangun jalan itu. “ Ini sebenarnya bisa dilakukan kalau semua pihak mau ikut memikirkan, mulai Pemeintah Kabupaten melalui Camat setempat, bisa juga perusahaan-perusahaan itu menyisihkan sebaian keuntungannya untuk membantu perbaikan jalan terdsebut “(Jum)




Baca Selengkapnya...

8.22.2009

SDN GUNUNG MALANG 02, KEJAR PRESTASI DITENGAH KETERBATASAN

Lokasi sekolahnya cukup terpencil. Didesa yang terletak dipinggir hutan pinus, di Wilayah Kecamatan Sumberjambe. Berbicara prestasi akademik, sekolah yang dipimpin oleh Katimin,Spd belum bisa berbicara banyak, maklumlah, selain minimnya sarana dan prasarana, juga belum terciptanya sistim pembelajaran yang sistematis, sehingga dapat mencetak generasi berkualitas sesuai dengan target yang diinginkan. Namun, tidak demikian dengan bidang non akademis. Di Tingkat Kecamatan, SDN gunung malang 02, seringa menyabrt berbagai gelar juara, walau tidak yang terbaik, namun kalau untuk juara II, III , dan IV sudah menjadi langganannya.Katimin cukup senang, walau di pinggir hutan, sekolah yang dipimpinnya memiliki siswa cukup banyak, yakni sekitar 254 siswa. Untuk kondisi gedungnya, sudah cukup bagus, tahun 2003 memperoleh proyek rehab, sebanyak 3 lokal, dan tahun 2004 juga 3 lokal. Jumlah gurunyapun sudah cukup, total ada 10 orang guru, yang 6 orang sudah PNS, dan yang 4 orang Sukwan.
Kepada wartawan Koran ini, Katimin menjelaskan, kalau persoalan partisipasi masyarakat memang masih membutuhkan sentuhan-sentuhan lebih serius , pihak komite yang diketuai oleh K. Muzamil berupaya untuk membvrikan pemahaman pada masyarakat, akan pentingnya pendidikan. Memang sulit, karena masyarakat masih menempatkan pendidikan bukan pada persoalan pokok, mereka masih lebih mementingkan urusan ekonominya. Disamping itu, masyarakat masih banyak yang belum mampu membantu belajar anak disekolah, sehingga anak-anak hanya belajar saat disekolah.. Sebagai salah satu tokoh agama, K. Muzamil harus bekerja kerja keras guna memberikan pemahaman kepada masyarakat, akan penrtingnya pendidikan bagi anak, kalau idak, dapat dibayangkan, susah untuk mencetak prestasi
Bangun TK Rangsang Masyarakat
Banyak cara dilakukan Katimin dan Komite untuk merangsang masyarakat agar ikut memikirkan pentingnya sekolah, utamanya kepada generasi muda , yang kini maih memiliki anak Balita. Dirinya berusaha membangun TK PGRI, yang bertujuan untuk menampung anak-anak balita usia sekolah, agar disekolahkan oleh orang tuanya. Kalau sudah demikian, kedepan, mereka pasti akan menyekolahkan anaknya ke SD. Dan ini yang nantinya bakal jai input bagi Sekolah SD Gunung malang 02..
Gak Punya Mebelair.
Yang sangat dibutuhkan dalam waktu dekat, kata Katimin, sekolahnya sedang membutuhkan bangku dan meja bagi siwa. Terus terang sudah beberapa kali kami berupaya untuk melaporkan pada dinas, melalui UPTD, namun sampai saat ini belum juga direalisasikan. Sedikitnya kami butuh 20 meja dan 40 kursi untuk siswa kelaas IV mas, sungguh kami buth mas “ ungkapnya memelas (Jum)



Baca Selengkapnya...

7.20.2009

SERTIFIKASI BUKAN PENGHARGAAN

Sertifikasi tampaknya sudah mulai berubah maknanya. Jika diawal pelaksanaan sertifikasi itu ruhnya merupakan penilaian atas profesionalisme seorang guru, atau dosen, kini ruh itu mulai bergeser menjadi sebuah penghargaan. lucunya, penghargaan itu bukan dikeluarkan oleh pejabat yang memiliki kewenangan dalam pemberiaan sebuah penghargaan, namun justru hanya dilakukan oleh Pejabat seingkat Kepala UPT. Sumber media ini dilapngan menemukan, bahwa sertifikasi yang terjadi di kecamatan Kalisat tampaknya perlu ditinjau kembali keberadaannya. Sebab, sertifikasi yang diberikan kepada beberapa oknum guru, diduga tidak lagi didasarkan dari prestasi atau profesionalisme guru itu sendiri, namun hanya sebuah reward yang diberikan kepala UPTD kepada guru yang menmgajar di sebuah sekolah yang direncanakan sebagai sekolah rintisan setandart Nasional.
Seperti yang diketemukan wartawan media ini data yang cukup meragukan atas usulan sertifikasi bagi guru-/kepala sekolah yang ada di kecamatan kalisat. Dari hsail seleksi yang dilakukan panitia, telah mengajukan usulan kepada Dinas pendidikan sebanyak 83 orang. Seleksi itu sudah didasarkan atas prestasi kerja, senioritas, dan kepangkatan. Mereka telah disusun secara berurutan sesuai dengan ketentuan.
Dari data usulan yang disampaikan kepada Dinas pendidikan, maka dari dinas pendidikan diperoleh jawaban bahwa ada 39 nama yang disusulkan telah disetujui, dan itu resmi ditanda tangani oleh kepala Dinas pendidikan. namun, tak berapa lama, muncul informai tambahan, bahwa Kecamatan kalisat mendapat tambahan kuota sebanyak 14 orang. Ysng 13 orang dari Kecamatan Kalisat, 1 orang dari kecamatan lain.
Munculnya kuota tambahan itu sempat menggegerkan para guru yang sejak awal sudah masuk dalam nominasi. Hal itu dikarenakan, tambahan kuota bagi guru-guru yang disetujui untuk menguikuti sertifikai tersebut ternyata tidak diambilkan sesuai dengan urutan daftar semula. Mreka justru diambil dari nomor-nomor yang jauh dari urutan, bahkan ada yang tidak masuk daftar usulan. Inilah yang kemudian membuat guru-guru berang. namun, keresahan mereka sama sekali tidak mendapat perhatian dari Kepala UPTD stempat H.Abd Gani.
Bahkan kepada wartawan media ini, Gani mengatakan bahwa keputusan itu bukan lagi kewenangannya tapi kewenangan dinas. Dan ketika disinggung mengenai beberapa oknum guru yang lulus seleksi ternyata bukan dari daftar usulan, pria yang mulai dijauhi oleh para guru itu tetap bersikukuih bahwa itu bukan lagi kewenangannya " maaf mas, kami tidak memiliki kewenangan untuk menjawab, semua itu jadi keputusan dinas, maaf mas " ujarnya.(Sar)



Baca Selengkapnya...

7.09.2009

Pasca PSB Orang tua Pusing Cari Sekolah

Sehari setelah diumumkannya hasil penerimaan siswa baru melalui media kamis,9/7 lalu, ratusan orang tua siswa dibikin pusing tujuh keliling mencarikan sekolah anaknya yang tidak diterima di sekolah yang menjadi pilihannya. Pantauan Sorot dilapangan, tidak sedikit orang tua siswa mengeluh atas sistim yang digunakan oleh Dinas Pendidikan dalam penerimaan siswa baru tahun ini, padahal sistim kalai ini mendapat penilaian lebih baik dari sebagian orang, sementara sebagian lainnya menganggap sistim ini memusingkan.Hanafi, 45 salah seorang orang tua siswa sempat mengeluh atas gagalnya anak semata wayangnya masuk kesekolah faforit yang diinginkan sang anak, namun demikian sang anak masih diterima disekolah alternatif pilihanya. Selain itu yang membuat kepalanya pusing, anaknya ternyata tidak mau sekolah ditempat dimana dia diterima sesuai alternatif pilihannya, alasannya, selain jauh dari rumah, juga malu sama teman-temannya. Untuk itu dia mencoba dengan berbagai cara untuk melakukan lobi-lobi, termasuk menggunakan pengaruhnya sebagai pengusaha sukses dikota ini.
Hal sama juga dialami Pak Andre, 37. Bapak tiga anak ini juga pusing setelah anaknya tidak diterima di SMP favorit pilihannya, tapi masih diterima di SMP lain yang greetnya cukup bagus. Kepada Sorot, pria perlente itu mengatakan, kalau sistim saat ini jauh berbeda dengan sistim tahun lalu, saat ini tidak hanya namanya saja yang dicantumkan, namun nilai UAS dan TPAnya juga dicantumkan, sehingga menjadi sulit untuk bermain. Dia juga mencoba melakukan lobi-lobi dengan pihak-pihak terkait agar anaknya bisa diterima disekolah pilihan pertamanya. Namun setelah mendapat masukan dari relasi dan beberapa guru ahirnya dia bisa menerima, dan lebih memilih menyekolahkan anaknya disekolah yang menjadi pilihan kedua anaknya tersebut “ Ya gimana mas, orang sistimnya gak sama dengan tahun lalau, jadi gak bisa titip-titipan “ ujarnya. Namun, dia sepakat agar sistim ini tetap dijalankan untuk tahun-tahun mendatang, agar sekolah benar-benar mendapt input sesuai dengan setandart yang dimilikinya.
Kepala Dinas Pendidikan Achmad Sudiono keika dikonfirmaasi tentang persoalan PSB mengatakan, bahwa ini semua berawal dari keinginan masyarakat yang ingin sekolah tidak dijadikan ajang bisnis, atau permainan, makanya Dinas Pendidikan mengikuti keinginan masyarakat, kalau kemudian dengan sisim ini ternyata banyak orang tua yang pusing karena anaknya tidak diterima disekolah pilihannya, itu sudah jadi konsekuensinya, dan pihaknya akan tetap mengikuti apa yang diinginkan masyarakat, dan yang paling penting Instnasi yang dipimpinnya tahun ini bebas dari dampratan atau titip-titipan dari orang tua yang ingin anaknya mauk sekolah favorit. Jadi, siapa yang memenuhi syarat itu yang masuk (Ar)




Baca Selengkapnya...

KASUS SERTIFIKASI GURU DI KALISAT BAK API ALAM SEKAM

Polemik persoalan sertifikasi tampaknya semakin berkepanjangan, berbagai persolan muncul terkait pelaksanaan sertifikasi bagi para kaum Oemar Bakri tersebut. Serti yang kini terjadi di kecamatan Kalisat, persoalan dugaan tidak fairnya seleksi peserta seertifikasi bakal menjadi api dalam sekam, jika tidak segera diselesaikanIhwal terjadinya dugaan ketidak fairan seleki peserta sertifikasi bagi guru di Kecamatan Kalisat berawal ketika , munculnya tambahan kuota yang ada bagi para guru. Awalnya, tim seleksi sesuai dengan Surat kepala Dinas Pendidikan Nomor :800/872/436.316/2009 , tentang Daftar nominai Usulan Calon Peserta sertifikasi Guru Kuota 2009. Berdasarkan surat tersebut, Tim seleksi yang terdiri dari UPTD, PGRI, dan KKS berhasil menyusun nominasi calon peserta yang dinilai berdasarkan ketentuan yang telah diatur telah berhasil menyusun 83 nominator. Kesemuanya itu telah dinilai sesuai dengan aturan. Dari data itu, kemudian mendapat jawaban dari Dinas Pendidikan yang ditanda tangani Kepala Dinas Pendidikan Drs H. Achmad Sudiono sebanyak 39 orang nominator, dan itu sesuai dengan urutan nominasi yang diajukan, Jika ada perubahan itu hanya pada perubahan nomor urut 5 dan 6. Untuk nomor urut 5 pada usulan UPTD Kalisat tercantum nama Surawi, NPUTK ( 5033728629200013 , dan untuk nomor 6 tercantum atas nama Sukardjo, NUPTK(4139728630200023.) Sementara daftar yang dikeluarkan sesuai dengan Keputusan Kepala Dinas Nomor : 800/1132/436.316/2009 untuk nomor urut 5 tercantum atas nama Sukardjo , dan nomor 6 Surawi.
Sampai pada putusan ini, pihak calon tidak Memunculkan persoalan, karena Semua sudah sesuai aturan, namun ketika muncul tambahan kuota sebanyak 14 orang lagi, yang pengambilannya tidak lagi berdasarkan usulan awal, maka muncullah persoalan-persoalan kecil yang lama-lama menjadi besar. Sebenarnya, kasus ini tidak akan berkepanjangan jika saja Kepala UPTD Kalisat H. Abdul Gani mampu mengatasi berbagai pertanyaan dari para nominator yang pada akhirnya justru terlewati kesempatannya berganti dengan nama-nama yanag selain masa kerjanya juga belum cukup, pangkat dan golongannya juga tidak sesuai dengan surat kepala Dinas Pendidikan. Bahkan, dalam sebuah pertemuan, Gani sempat menyampaikan kalau keputusan ini memang harus seperti itu, karena saat ini dibutuhkan keputusan yang sarat muatan politisnya, dan kepada mereka yang terlewati dan belum beruntung , agar tetap sabar, menunggu giliran.
Tampaknya, banyak nominator tidak sepaham dengan apa yang dikatakan oleh Kepala UPTD nya, Menurutnya yang disampaikan Gani, sangat tendensius, dan itu bukan saatnya disampaikan dalam pertemuan yang situasinya menghangat, pernyataan itu memantik kemarahan beberapa diantara mereka, hingga , akhirnya bocornya informasi itu kepada wartawan.,beruntung mereka tidak melakukan hal-hal yang bisa membahayakan bagi dunia pendidikan.
Diduga Rekayasa.
Tampaknya kejadian yang diduga kuat banyak direkayasa itu sudah berlangsung slama, namun masih belum mendapat rekasi keras dari para giuru, namun ketika kejadian bernuansa politik dan uang itu kembali terjadi, ketika para nominator yang diusulkan benar-benar memiliki prestasi dan kinerja bagus, tapi harus dikalahkan dengan yuniornya yang masih diragukan integritasnya, maka sebagian diantara mereka segera marapatkan barisa. Bahkan, salah seoarng sumber menyebutkan, kalau dirinya akan terus berjuang dan berjuang sampai atasan di Jember mengetahui duduk persoalannya “ Saya akan terus brerjuang demi keadilan , “ katanya.
Sumber dikalangan guru=guru di Kalisat menyebutkan, bahwa mereka juga gak mengerti kenapa bisa muncul daftar susulan , yang lucunys masih ada mereka yang namanya bukan masuk nominator, bahkan pangkatnya masih jauh dari syarat yang ditetapkan, sesuai dengan surat Kepala Dinas, maupaun syarat yang trelah ditetapkan. Namun dengan jsutifikasi yang mereka buat, 13 orang yang susulan itu tetap diproses, padahal saat awal muncul persoalan, ada jaminan dari pihak terkait bahwa ke 13 orang itu tidak akan diproses lebih lanjut.
Gazuli, Ketua PGRI Kec Kalisat, saat dikonfirmasi persoalan ini mengatakan, sebagai salah satu panitia seleksi, dirinya mengusulkan sesuai dengan ketentuan, kemudian ada jawaban dari Jember diterima 39 orang sesuai urutan, dan keputusan itu ditanda tangani Kepala Dinas Pendidikan Jember, pada tanggal 27 April 2009. Namun, ketika muncul tambahan yang kemudian diambil tidak sesuai dengan nomor urut, dirinya tidak banyak tahu. Namun, sebagai panitia, dirinya tetap mencari tahu kenapa bisa terjadi seperti itu “ Saya sebagai tim sudah mengajukan sesuai dengan nominasi, kalau ada seperti itu, wach itu saya yang tidak tahu, tapi saya tetap akan cari tahu Dik” ujarnya.
Disisi lain, Kebaid Ketenagaan Dinas Pendidikan, Heny , ketika dikonfirmasi terkait kasus sertifikasi di kalisat yang memunculkan 13 orang tambahan dari kuota awal yang diputuskan Kepala Dinas sebanyak 39 orang menyangkal kalau dispendik mengeluarkn dua kali daftar orang-orang yang lolos sertifikai, dia bersikukuh kalau dinas pendidikan hanya eekali mengeluarkan keputusan. Selain itu, Heny juga minta kepada wartawan koran ini untuk memberikan data yang kongkret padanya, agar dirinya bisa mengambil langkah tegas. “ Gak bener mas, kami hanya mengeluarkan satu kali keputusan, tidak ada tambah-tambahan, dan parameter dari penilaian adalah seperti yang sudah ditetapkan dalam aturan., jadi kalau ada diluar itu tolong dibantu datanya ya “ ujarnya.(Ar)




Baca Selengkapnya...

5.07.2009

Belajar Dibawah Gedung Rapuh

Tampaknya apa yang dibicarakan orang kalau masih banyak gedung-gedung sekolah yang kondisinya memprihatinkan, itu bener adanya. Bahkan, keseriusan pemerintah untuk segera meng upgrade sangat ditunggu-tunggu. Sebab jika tidak, jangan salahkan kalau gedung tua yang di setiap sisinya mulai rapuh tersebut ambruk, jika muncul korban, pasti bakal muncul komentar yang beraneka ragamBaik yang bernada membela diri dengan merasionalkan yang seharusnya tidak rasional, sampai tudingan buruknya management .Tapi semua itu tak bakalan menyelesaikan persoalan, jika tidak diikuti rasa kesadaran dan rasa tanggung jawab pengambil keputusan terkait layak tidaknya sebuah gedung memperoleh anggaran rehab.
Pagi itu, seperti biasa Sorot melakukan perjalanan dari desa kedesa. Selain untuk mengetahui sejauh mana perkembangan pembangunan di era Pemerintahan Bupati MZA Djalal, juga ingin mengetahui ada tidaknya sekolah-sekolah yang kondisinya memprihatinkan. Kali ini, yang jadi sasaran wilayah Kecamatan Pakusari. Disana Sorot sempat berdialog dengan beberapa masyarakat sekitar sekolah, tentang adanya sekolah yang beberapa saat lalu sempat ambruk atapnya. Setelah melalui perjalanan berliku, tibalah disebuah sekolah yang kondisinya mirip barak penampungan. Setelah berbasa-basi , Tim ditemui oleh perempuan setengah baya. Ya Ny Purwati, Spd. Ibu empat orang anak ini sudah empat tahun menjabat sebagai Kepala Sekolah di sana. Dengan penuh semangat perempuan yang punya semangat tinggi itu menjelaskan kondisi gedung sekolah yang dipimpinnya itu.
Sangat Memprihatinkan.
Awal menjabat empat ( 4 ) tahun lalu, kondisi gedung disini sangat memprihatinkan, jumlah siswanya kalau nggak salah sekitar 136 an siswa, ditambah beberapa barang inventaris yang sudah tak layak dipakai. Pasca penerimaan siswa baru, dirinya memberanikan diri untuk membeli sekitar 20 pasang mebelair, anggarannya menggunakan dana BOS, “Maklum disini tidak mengambil pungutan sama sekali dari siswa “ ujarnya. Yang menggembirakan, tahun itu juga siswanya naik menjadi 153 siswa. Tahun kedua dirinya juga membeli 20 set mebelair, dan alhamdulillah siswanya juga naik menjadi 168. Kini siswanya sudah mencapai 190 siswa.
Selain itu, perempuan yang pernah mengabdi selama 25 tahun sebagai guru di Kertosari itu, nekad membangun pagar sekolah, sebab jika tidak, siswanya tidak bisa melakukan upacara, karena kendaraan selalu lewat seenaknya. Makanya, setelah melalui perdebatan panjang dan dukungan semua pihak, maka terwujudlah pagar itu. Masih kata Purwati, dirinya sangat berharap kepada pemeintah dalam hal ini Dinas Pendidikan untuk dapat memberikan bantuan rehab pada sekolahnya, dirinya sangat kawatir dengan keselamatan siswanya. “ saya sangat berharap lho mas ada rehab, terus terang sejak dibangun sekitar tahun 80 an, sekolah ini belum pernah mendapat rehab sama sekali “ katanya.
Modal Ngirit.
Berbicara mutu pendidikan, Purwati nampaknya tidak ingin kalah dengan sekolah lain , utamanya dikota. Walau kata banyak orang, dirinya banyak berharap menjadikan prestasi siswanya maju, namun dengan tekad dan menyiapkan SDM gurunya dengan baik, ditunjang input dari siswa juga lumayan, dirinya yakin kalau prestasi itu bakal diperolehnya. Namun ketika disinggung dengan sarana dan prasarana pendukung dalam mewujudkan mutu pendidikan disekolahnya, perempuan berwajah lembut itu menyatakan, kalau dirinya harus Ngirit, dan punya keyakinan kalau apa yang diinginkannya bakal terwujud.
Dia juga meyakini dengan 5 ( lima ) dasar yang harus dilakukan , perjuangannya bakal berhasil. Ke lima dasar itu antara lain, Disiplin diri, Tertib, Punya semangat, Inovatif, Mampu menghadapi tantangan seberat apapun. “ Saya yakin pak, jika semua elemen yang ada disini menjalankan lima prinsip itu dengan istiqomah, saya yakin perjuangan kami pasti berhasil “ ujarnya meyakinkan. (*)




Baca Selengkapnya...

5.01.2009

HARDIKNAS , JEMBER BERTABUR PRESTASI

Peringatan Hari Pwendidikan nasional yang digelar, sabtu 2/5 tampaknya jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. hal ini terlihat dari banyaknya prestasi yang berhsil diraih putra-putri terbaik jember. beberapa siswa yang berasal dari sekolah-sekolah favorit, seperti SMA Negeri 1 , SMPN 3 Jember , SD Jember Lor 3 dan SD Alfurqon, mereka menjadi biontang yang kian menyinari Jember di sektor pendidikan. Menteri pendidikan Nasional Prof Bambang Sudibyo, dalam sambutannya yang dibacakan oleh Bupati j


Baca Selengkapnya...

4.30.2009

PERINGATAN HARDIKNAS TAMPIL BEDA

Ada hal yang manarik dalam peringatan hari pendidikan nasional kali ini. Selsain bakal tetap meriah , karena ditampilkannya putra-putri Jember berprestasi, kali ini peringatan haridiknas diikuti oleh pameran-pameran yang bakal menarik masyarakat Jember.Kepala Dinas pendidikan jember Drs.H.Achmad Sudiono kepada wartawan Soline mengatakan, peringatan hardiknas tahun ini sengaja ditampilkan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kali ini, bakal ada pameran yang nantinya bakal menyedot perhatian masyarakat Jember. Untuk itu, dirinya berharap agar semua pihak ikut menikmati sajian dari masyarakat pendidikan.

Selain itu, mantan kepala Sekolah luar Biasa di jember ini, berharap agar prestasi pendidikan di Jember semakin mantab ditahun mendatang. tak sedikit prestasi yang telah diraih masyarakat pendidikan jember. Termasuk prestasi yang telah diraih anak-anak didik kita.

Ditempat berbeda, Sutrisno salah seorang wali murid , dalam peringatan hardiknas tahun ini mengatakan, kalau dirinya cukup bangga dengan perjalanan Dunia pendidikan di jember, termasuk perhatian pemerintah kabupaten yang telah banyak memberi kemudahan bagi msayarakat kurang mampu. tahun lalu, lanjut Sutris, Pak bupati telah membebaskan biaya pendidikan bagi anak kader p[osyandu dan anak pasukan kuning. Dari sini saja, sudah berapa ribu pelajar yang telah diselamatkan dan dibantu pemerintah. belum kebijakan pemerintah yang membebaskan biaya pendidikan bagi pelajar SD dan SMP, walaupun dikota kebijakan pendidikan gratis itu belum bisa diterapkan secara utuh.

Hal sama juga disqmpaikan Ny Tika Aryadi. Dia menyebutkan dunia pendidikan mengalam jaman keemasan, terlebih di jember banyak kebijakan yang sangat memihak pada rakyat kecil, sehingga target Wajar Dikdas 9 tahun bisa dicapai (*)


Baca Selengkapnya...

4.08.2009

272 PEJABAT DINAS PENDIDIKAN DILANTIK




Sedikitnya 272 pejabat dijajaran dinas Pendidikan jember dilantik pada Rabu 8/4. Meeka terdiri dari beberapa kepala Sekolah, mulai dari kepala sekolah SD,SMP,SMA dan SMK juga pengawas se wilayah kabuopaten jember. Acara sedianya akan dihadiri oleh Bupati Jember Ir.MZA Djalal, namun demikian karena ada acara yang tidak bisa diwakilkan, bupati mengutus Asisten Bidang Administrasi Pemkab jember Drs.Gatot Harsono, dan kepala BKD Jember Sugiyanto,SH. Acara dilaksanakan di aula Dinas pendidikan jember.Pantauan wartawan ini dlapangan menyebutkan, sirtuasi di Dinas pendidikan sudah ramai sejak pagi hari, bebeapa pejabat yang bakal dilantik hari itu sudah banyak yang berdatangan sejak pukul 8 pagi. Mereka diantar oleh suami dan anak-anaknya, semua tampak sumringah. Seperti yang disampaikan oleh Agus, 46. Pria yang juga PNS dilingkup dinas pendidikan itu mengatakan kalau dirinya datang sebagai pendamping istrinya yang kali ini dipercaya untuk menjabat sebagai kepala Sekolah di wilayah kecamatan Sumbersari, untuk itu dirinya sejak pagi sudah berada di sini. Sama halnya dengan Yudianto, laki-laki yang juga Staf PU Binamarga itu juga hadir sejak pagi untuk mendampingi istrinya yang dilantik menjadi salah satu kepala Sekolah diwilayah kecamatan kalisat " Wach saya juga sejak pagi mas, saya ndampingi nyonya yang diperaya menjabat sebagai KS di kecamatan kalisat ?" ujarnya bangga.

Sementara Sambutan Bupati Jember Ir.MZA Djalal, yang dibacakan Kepala dinas pendidiikan Jember Achmad Sudiono menyebutkanb, bahwa pelantikan pejabat kali ini merupakan hal lumrah sebagai jawaban atas kebutuhan roda organisasi, selain itu pejkabat yang diolantik juga diminta untuk menjalankan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan, untuk itu semua harus bekerja sesuai dengan tanggung jawab masing-masing.

Ditempat berbeda, Achamd Sudiono kepada wartawan mengatakan, pelantikan ini merupakan jawaban atasi kekurangan tenaga kepala sekolah di wilayah, dengan dilantiknya mereka berarti tugas yang mereka hadapi semakin berat, telebiuh dalam menghadapi ujian nasional dan UASBN


.

Baca Selengkapnya...

3.20.2009

Sat Pol PP JARING PELAJAR MBOLOS

Terobosan demi terobosan yang dilakukan Satuan Polisi pamong Praja, Pemkab Jember semakin mendapat dukungan dari masyarakat. Hal itu terlihat ketika Sat Pol PP melakukan operasi terhadap beberapa rental komputere dan enternet di daerah kampus universitas Jember, kamis 19/3 lalu. Hasilnya sedikitnya empat pelajar yang masih duduk dibanghku SMP terjaring.

Keempat pelajar nakal tersebut terjaring ketika , Sat Pol PP dibawah kendali mantan camat Ajung Drs Sunyoto menggelar aksi penertiban. Keempat pelajar tersebut kemudian diamankan untuk kemudian diberi pembinaan di kantor Sat Pol PP.

Kepada Sorot , Nyooto demikian dia dipanggil membenasrkan kalau stafnya telah menggelar penertiban dan menjaring 4 pelajar yang ketangkap basah tidak sekolah. Namun, dia enggan untuk menyebutkan dari mana pelajar tersebut, yang pasti mereka kini telah diberi pengarahan dan berjanjki tidak akan mengulangi lagi " Ya, sudah lah, kita nggak perlu dari mana sekolah mereka, tapi benar kami telah menjaring empat pelajar yang ketangkap basah bermain game ketika jam sekolah, mereka sudah diberi pengarahan " ujarnya.

Sementara Mulyadi, 45 salah seorang warga disekitar rental mengatakan, biasanya banyak pelajar yang mbolos dan main game, tapi kebetulan hari itu kok agak sepi, mungkin ada bocoran, sehingga yang terjaring sedikit sekali. " Wach ini masih sedikit mas, biasanya banyak sekali anak-anak baik SMP maupun SMA yang mbolos main game, bahkan ada yang SD " katanya.(*)


Baca Selengkapnya...

3.19.2009

Murid Was-Was Gedungnya Longsor

Drs. Suparnoto : " Kami Berpacu Dalam Keterbatasan"

Letaknya sih memang di desa, tepatnya di desa Sumberjati, Kecamatan Silo. Jarak dari pusat kota Jember , sekitar 27 Km. Namun, soal semangat dan prestasi jangan diremehkan. Itulah yang kini jadi tekad seluruh komponen yang ada di sana. Baik guru, siswa, orang tua dan pengurus komite sekolah. Mereka bertekad untuk menjadikan SD Negeri Sumberjati 01 menjadi sekolah inti atau unggulan untuk wilayah Kecamatan Silo. Obsesi itu tidak berlebihan. Sebab, jauh sebelumnya sejak lebih satu tahun lalu, Kepala Sekolah yang baru Drs.Suparnoto mencoba melakukan evaluasi atas perjalanan prestasi sekolahnya. Sebabagi sekolah tertua di desa itu, SD Sumberjati bertekad untuk memiliki prestasi yang lebih jika dibandingkan dengan sekolah lainnya. Keinginan itu kemudian disampaikan kepada seluruh staf, guru , juga komite sekolah, walhasil gayung bersambut, keinginan itu menjadi sebuah target yang harus dicapai dalam kurun waktu 2 tahun mendatang.

Untuk memulai membangun kepercayaan masyarakat terhadap sekolah yang dipimpinnya, Suparnoto menerapkan berbagai aturan yang harus diikuti secara sadar oleh semua komponen. Pertama dia menerapkan disiplin kerja, kemudian mengarah pada disiplin mengajar, dan belajar. Untuk mengmbangi semua itu, pihaknya juga membuat kegiatan pra kegiatan bel;ajar mengajar, yakni senam pagi Indonesia , yang selalu dilaksanakan 15 menit sebelum jam 07.00 Wib. Setelah itu, semua siswa dan guru membaca doa-doa dari ayat-ayat alquran ( surat-suarat pendek ) , untuk urusan yang ini, akan dipandu oleh guru agama. Dan itu dilakukan setiap hari sekolah. Dia juga menjelaskan, kalau sekolahnya saat ini sebenarnya dalam kondisi rawan, sebab dibagian belakang yang berbatasan dengan sungai, tampaknya sedang mengalami penggerusan oleh derasnya air. Untuk itu, dirinya sangat kawatir jika hujan deras bakal membuat bangunannya tergerus dan longsor, yang akan membuat susah murid-murid. Selain itu, untuk mengoptimalkan kegiatan belajar mengajar, disekolahnya masih kekurangan 3 lokal. Itupun bisa dipenuhi jika pembangunannya di tingkat. Makanya, pihak sekolah ingin pemerintah meninjau langsung kondisi sekolah kami " Gini mas, kondisi sekolah ini sebenarnya rawan, itu lho yang belakang takut longsor " ujarnya.

Baca Selengkapnya...

SD Kepatihan I Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW

Sabtu (7/3) yang cerah, tidak seperti biasanya, seluruh siswa/i SDN Kepatihan I Jember memakai busana muslim. Meski Maulid Nabi Muhammad SAW baru jatuh hari Senin (9/3), karena hari itu libur maka peringatan dilakukan hari Sabtu. Mereka memperingati Maulid nabi Muhammad SAW bersama semua guru dan kepala sekolah. Tema peringatan yang diusung kali ini adalah Nabi Muhammad teladan seluruh umat. Acara ini diadakan tiap tahun dihalaman sekolah, sementara siswa/i meskipun panas tetap mengikuti ceramah tentang keteladanan Nabi Muhammad.

Kepala Sekolah SDN Kepatihan I Jember, Hj Retno Edowati, Spd mengatakan, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sangat penting artinya bagi siswa/i. Bahwa selain punya prestasi akademik, punya skill yang hebat tetap yang lebih penting adalah siswa/i harus punya ahklaq kulkarimah sesuai teladan Nabi besar Muhammad SAW. Apapun yang terjadi, generasi penerus kita jangan sampai hanya sekedar mengejar ilmu akademik. Tapi mereka juga harus dibekali pula dengan ahklaq yang baik, yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.Makanya tiap tahun selalu ada peringatan hari-hari besar agama Islam, ini dimaksudkan agar semua anak didik bisa memahami dan mengerti tentang agama Islam. Jangan sampai mereka menjadi pintar tapi kurang memahami tentang agama, ini akan membahayakan bagi anak itu sendiri maupun bangsa dan negara.

Tampak siswa/i sedang mendengarkan ceramah agama, untuk membuat siswa/i semakin tertarik mendengarkan ceramah. Mereka juga diwajibkan untuk membuat semacam laporan tentang cerita keteladanan Nabi Muhammad SAW. Makanya meski dibawah panas matahari, mereka tetap mendengar dengan tenang ceramah agama. Tapi dasar anak, ada juga yang bermain sendiri, lempar-lemparan kertas dengan sesama temannya.

Usai mengikuti ceramah tentang keteladanan Nabi Muhammad, saat pulang anak-anak juga mengumpulkan kertas yang dibuat alas duduk untuk dibuang ke tempat sampah. "Anak-anak melakukan itu untuk belajar bertanggung jawab pada diri sendiri maupun pada orang lain. Mereka sadar kalau bersih itu sebagian dari pada iman," kata Hj Retno.(dew)Kematangan PerempuanSebagai Penentu Kualitas SDMKonon banyak orang bilang perempuan merupakan factor penentu bagi kualitas sumber daya manusia. Pendapat itu cukup beralasan. Sebab, didalam alquran sendiri disebutkan, selain perempuan sebagai benteng bagi keberadaan manusia didunia, disana juga disebutkan, kalau perempuannya baik, niscaya dunia ini akan baik juga.

Diera moderen, peran perempuan semakin memiliki posisi strategis, untuk itu dari masa kemasa, keberadaan perempuan dituntut untuk semakin memiliki kualitas sumber daya yang mumpuni. Termasuk didalamnya, perempuan harus berani meng-upgrade dirinya , dalam upaya perbaikan kualitas generasi.

Kabar tidak sedap menyangkut perkawinan usia dini yang dilakukan oleh Syeh Puji terhadap Lutfiah Ulfa , menggugah berbagai elemen untuk berkomentar , terkait lazim tidaknya perkawinan tersebut. Kalau dilihat dari sejarah perkawinan yang terjadi di Indonesia pada umumnya, khsusus di Jawa, wabil khusus di Jawa timur, kasus perkawinan yang dilakukan Ulfa, bukanlah hal aneh. Bahkan kalau semua pihak mau jujur, termasuk didalamnya lembaga yang selama ini getol melakukan penekanan terhadap Syeh Puji, kasus serupa banyak sekali terjadi. Di Jemberpun bisa jadi akan diketemukan Ulfa-ulfa lain yang justru lebih tragis hidupnya pasca mereka dikawinkan.

Saya sepakat dengan langkah yang diambil Kak Seto Mulyadi, dkk. Sepakat saya terletak pada nawaitu mereka untuk memberikan perlindungan bagi perempuan-perempuan korban gengsi maupun kultur. Namun demikian, saya juga berharap agar apa yang dilakukan kak Seto dengan Lembaganya itu tidak hanya pada Ulfah yang kebetulan dikawin oleh Syeh Puji yang bergelimang duit. Tapi, lebih pada sikap konsisten lembaga tersebut pada kasus-kasus serupa. Sebab, untuk melakukan penegakkan Undang-undang Perkawinan tidak hanya terbatas kasus yang kebetulan menimpa Syeh Puji yang kaya raya itu. Namun, harus untuk semua orang dan golongan.

Lembaga semacam Komnas Ham hendaknya perlu melakukan investigasi kedesa-desa , yang disinyalir marak terjadinya perkawinan Usia Dini. Komnas Ham perlu merangkul LSM-LSM Perempuan untuk menggali data, melakukan investigasi, kemudian melakukan pendampingan-pendampingan kepada korban-korban kawin dini tersebut, Komnas Ham bisa meminta Pemerintah untuk memfasilitasinya. Kadang , ketika melihat tayangan di Televisi ,saya sempat tertawa ketika menyaksikan debat kusir antara pihak yang tidak menyetujui perkawinan ala Syeh Puji, dengan pelaku ( Syeh Puji ). Memang secara hukum syariah , yang diperbolehkan untuk dikawin itu adalah perempuan yang sudah mengalami menstruasi, disana tidak disebutkan secara spesifik tentang batasan minimal usia. Namun disisi lain, Undang-undang Perkawinan menyebutkan, batasan minimal perempuan yang diperbolehkan kawin adalah 19 tahun bagi perempuan dan 21 tahun bagi laki-laki. Batasan itu diberikan , agar kedua pihak yang bakal melaksanakan perkawinan sudah memiliki kematangan baik secara biologis maupun pishichologis.

Perempuan, saat mengalami menstruasi secara bilogis memang dikatakan matang, namun kondisi tersebut belum menjamin kematangan alat-alat reproduksi mereka. Terlebih, ketika perkawinan tersebut hanya dikarenakan factor yang irasional, seperti karena adat suatu daerah, karena takut malu dan sebagainya, tanpa didukung dengan persiapan-persiapan lain seperti persyaratan ekonomis. Jika itu yang terjadi, dapat dipastikan perkawinan itu bakalan tidak langgeng. Banyak fakta yang terjadi. Di salah satu Desa di Kecamatan Wilayah Utara, ada beberapa perempuan yang baru lulus SD , kemudian dikawinkan , karena terlanjur diminta. Usut punya usut ternyata , pihak laki –lakinya juga masih bau kencur, tidak tamat sekolah, tidak punya skill, juga tidak punya peklerjaan tetap. Wal hasil perkawinan yang kemudian menurunkan generasi baru itu, hidup dalam kesusahan. Mereka dililit persoalan ekonomi, percekcokan sering terjadi. Bahkan dari hari-kehari, percekcokan semakin tajam. Sementara pihak orang tua yang dulu begitu getol mengawinkan anaknya, tiba-tiba berinisiatip untuk memisahkan kedua pasangan bau kencur tersebut. Beruntung , perpisahan tidak terjadi. Setelah ada pihak yang kemudian mengajak si suami untuk bekerja.

Baca Selengkapnya...

Pentingnya Pendidikan Agama dalam Pembentukan Ahlaq

Pendidikan agama , ternyata menjadi persoalan yang sangat mendesak untuk diberikan kepada seluruh siswa di negeri ini. Tidak hanya pada siswa setingkat SMA, SMP dan SD saja, namun demikian, pemberian pendidikan agama tersebut haruslah dimulai pada pendidikan usia dini atau PAUD. Hal itu disampaikan oleh praktisi pendidikan Jember H. Muchtar,Spd. di ruang kerjanya kemarin.Menurutnya, penurunan akhlak yang terjadi belakangan ini bukan semata-mata karena masuknya era globalisiasi, atau minimnya jam pelajaran agama, namun demikian, persoalan itu banyak disebabkan, kurangnya komunikasi orang tua dengan anak, khususnya dibidang pembinaan keagamaan. Selain itu, diperparah lagi, semakin minimnya waktu yang tersedia dari orang tua. Mereka banyak disibukkan dengan pekerjaan, dan bisnis yang tak pernah usai, sehingga komunikasi dengan anak kualitasnya sangat rendah. Itu salah sau penyebabnya,Sementara ditempat berbeda, Kepala Dinas Pendidikan Jember Drs.H. Achmad Sudiono menjelaskan, pendidikan agama memang sudah harus ditanamkan sejak dini pada anak-anak. Selain itu, diusia yang masuk katagori golden age tersebut, anak lebih mudah mengigat hal-hal yang bersifat khusus. Itu artinya, mereka akan lebih mudah menerima masukan dari pada anak yang usianya lebih tua.Hal yang sama juga disampaikan oleh Musyarofah,41. Menurut perempuan berwajah manis ini, dalam memberikan pendidikan agama pada anak-anak lebih efektif, karena selain belum banyaknya persoalan yang dihadapi,pada anak usia dini memiliki tingkat kecerdasan yang lebih bagus dari pada usia-usia lainnya. Makanya, ada isitilah golden age, yang artinya usia keemasan. Dia juga menjelaskan, beberapa metode khusus yang selama ini dilakukan dalam memberikan pendidikan agaa pada anak-anaknya.Yang terpenting , kata istri H.Fathor rosi, dalam memberikan pendidikan agaa pada anak- anak usia dini dibutuhkan ketlatenan, dan kesabaran, perlu banyak diisi dengan cara bermain " Gini lho mas, memberikan pendidikan agaa pada anak-anak itu perlu kreatifitas dari orang tua au gurunya, jika tidak jangan harap mereka mampu menyimpan dalam memori otaknya " ujarnya.(Pmd)



Baca Selengkapnya...

3.13.2009

MIMPI MEWUJUDKAN PENDIDIKAN BERMUTU

Baru saja pemerintah Kabupaten Jember mencanangkan pendidikan bermutu, saebuah pendidikan yang memiliki kualitas “Layak” untuk dijual. Pendidikan yang bakal diminati oleh stakeholdernya. Untuk itu Pemerintah Kabupaten menempatkan Pendidikan menjadi skala prioritas yang harus digarap. Tidak itu saja, tampaknya apa yang diinginkan oleh pemerintah kabupaten, agar Jember kembali menjadi berdaya, lebih mumpuni diantara Kabupaten-kota yang ada di Jawa Timur, bahkan dilevel Nasional mendapat dukungan serius, itu terihat besarnya anggaran yang dikucurkan untuk Dinas Pendidikan dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu, pemerintah Kabupaten juga menunjukan komitmennya untuk meningkatkan kualitas pendidikan sehingga dalam berbagai kesempatan Bupati Ir.MZA Djalal selalu menyampaikan kepada masyarakat bahwa pemerintah Kabupaten Jember menggratiskan biaya pendidikan untuk siswa tingkat Sekolah dasar. Sayangnya, kebijakan itu tidak dikhususkan bagi orang-orang yang benar-benar tak mampu, melainkan untuk semua siswa, entah itu anaknya orang kaya, ataupun anak orang kere seperti si jadul, yang tinggal digubuk dibawah Gladak Kembar

Keinginan Pemerintah Kabupaten untuk menciptakan sebuah pendidikan bermutu, tampaknya belum diimbangi penyediaan sumber daya manusia yang sesuai di jajaran Dinas Pendidikan. Hal ini menyebabkan, program berjalan ditempat. Selain itu, juga belum mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Pusat, Propinsi, termasuk Pemerintah kabupaten, dengan mentaati amanat Undang-undang Sisdiknas No 20/tahun 2000. Dimana ditekankan, bahwa Pemerintah harus mengalokasikan 20% anggarannya untuk membiayai pendidikan. Jika menilik dari aturan, maka tidak ada lagi alasan bagi pemerintah pusat, Propinsi maupun Kabupaten untuk tidak melaksanakan amanat undang-undang tersebut. Tinggal goodwill pemerintah saja.

Persoalan menjadi semakin carut marut, ketika Pemerintah pusat melalui Menteri Pendidikan Nasional mengeluarkan surat Keputusan Menteri nomor 186/MPN/KU/2008, Tgl 2 desember 2008, yang isinya melarang sekolah untuk meminta iuran kepada orang tua murid, dan untuk itu pemerintah akan menaikan BOSS untuk masing-masing sekolah, baik SD maupun SMP.

Kalau saja boleh, saya termasuk para pengelola lembaga pendidikan tingkat SD/SMP bakal melakukan protes kepada pak Mentri. Sebab, nilai bantuan yang disebut Boss itu tidak sebanding dengan kebutuhan biaya sekolah, belum lagi jika nanti ada kebijakan-kebijakan yang bernuansa politis, yang meminta beberapa siswa untuk digratiskan. Padahal, untuk pembelanjaan dalam sebulan, sampai setahun, semuanya sudah tercantum dalam Rencana Anggaran Pembelanjaan Sekolah ( RAPBS). Dari RAPBS itu akan diketahui secara riel berapa kebutuhan biaya yang harus dipikul oleh lembaga sekolah dalam setiap tahunnya. Itupun biaya kebutuhan sekolah untuk memenuhi kebutuhan standar saja. Padahal, masih banyak setandar-setandar lainnya yang sama sekali belum bisa dipenuhi oleh Lemabaga sekolah, seperti halnya setandar sarana dan prasarana, setandar kompetensi, setandar kurikulum dan lain sebagainya, yang itu nonsense bias berjalan jika tidak didukung dengan anggaran yang cukup.Sementara, Pemerintah baik pusat sampai Kabupaten belum secara konsisten menerapkan 20% anggaran APBN,APBD I dan APBD II nya untuk pendidikan.

Kalau melihat kondisi seperti ini, jelas bakal membuat para pengelola lembaga sekolah pusing tujuh keliling, padahal, banyak sekali biaya yang dibutuhkan untuk menuju pendidikan berkualitas, baik akademis, maupun non akademis. Kalau sudah begitu, bagai mana kita bisa mewujudkan mimpi-mimpi indah kita , untuk mencapai pendidikan bermutu. Kapan semua itu bisa terealisir, kalau disisi lain, masih banyak aturan yang justru menghambat terwujudnya pendidikan bermutu, belum lagi tidak adanya komitmen dari pelaku pendidikan untuk mencetak pendidikan bermutu, bukan hanya secara fisik tapi juga yang mengarah pada perbaikan kualitas pendidikan.(*)



Baca Selengkapnya...

  © Klik Duniaku Ch3ru_Pastyle 2009

Back to TOP